Oleh: Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)

Sebuah Tamparan Realitas

Seringkali kita terjebak dalam riuhnya kata-kata. Di era digital saat ini, panggung komentar begitu riuh, namun ruang amal nyata justru sepi. Kita sibuk memperdebatkan kebaikan, tetapi lupa untuk melakoninya.
Sebuah untaian nasihat berharga dari ulama salaf, Abu Khaldah al-Bashri rahimahullah, tertulis indah dalam Kitab ash-Shamt karya Ibnu Abid-Dunya (No. 401):

أدركتُ الناسَ وهم يعملون ولا يقولون، وهم اليوم يقولون ولا يعملون
“Aku mendapati orang-orang dahulu, mereka beramal dan tidak banyak berbicara. Sedangkan orang-orang pada hari ini banyak berbicara, tetapi tidak beramal.”

Kata-kata ini seperti cermin yang memantulkan potret diri kita hari ini. Generasi terbaik terdahulu menyembunyikan amal mereka seperti kita menyembunyikan aib. Mereka bergerak dalam senyap, membangun peradaban dengan keringat dan keikhlasan. Sementara hari ini, jari jemari kita begitu ringan mengetik untaian bijak, namun kaki begitu berat melangkah untuk bersujud atau mengulurkan bantuan.

Teguran Langit bagi Pemilik Teori

Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang sangat keras bagi jiwa-jiwa yang hanya pandai merangkai kata tanpa ada bukti nyata dalam perbuatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)

Ayat ini adalah rem darurat bagi lisan kita. Allah membenci kesenjangan antara apa yang diucapkan oleh bibir dengan apa yang dipraktikkan oleh anggota badan. Keimanan bukan sekadar pajangan retorika, melainkan apa yang menancap kuat di dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Bahaya Lisan dan Keindahan

Diam
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah memberikan panduan emas agar kita tidak terjebak dalam badai kata-kata yang sia-sia. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

Diamnya orang-orang saleh terdahulu bukanlah karena mereka bodoh. Mereka diam karena sibuk menghitung aib diri sendiri dan memproduksi pahala lewat amal rahasia. Mereka sadar, setiap patah kata yang keluar dari mulut akan dimintai pertanggungjawaban yang berat di akhirat kelak.

Musuh Dalam Selimut: Bahaya Sifat Riya

Ketika kita mulai bergerak untuk beramal, tantangan terbesar tidak lagi terletak pada kemalasan, melainkan pada keikhlasan hati. Penyakit lisan yang gemar menggembar-gemborkan kebaikan sangat erat kaitannya dengan riya—yaitu beramal demi mendapatkan pujian, pandangan, atau pengakuan dari sesama manusia.
Sifat ini sangat berbahaya karena beberapa alasan mendasar:

1. Menghapus Seluruh Pahala Amal
Riya adalah penggugur pahala yang paling senyap. Secapek apa pun kita beramal, jika disusupi rasa ingin dipuji, Allah akan menolaknya mentah-mentah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam hadis qudsi:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku adalah Yang Paling Tidak Membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.” (HR. Muslim)

2. Termasuk Syirik Khafi (Syirik yang Tersembunyi)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat mengkhawatirkan umatnya terjerumus dalam penyakit ini. Beliau menyebutnya sebagai syirik asghar (syirik kecil) yang sifatnya sangat halus, layaknya semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di kegelapan malam. Beliau bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ. قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الرِّيَاءُ »“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)

3. Menjadi Pemicu Siksa Neraka Pertama Kali
Dalam hadis riwayat Muslim, tiga golongan manusia yang pertama kali diseret ke dalam neraka bukanlah pezina atau pencuri, melainkan seorang qari (pembaca Al-Qur’an), seorang mujahid, dan seorang dermawan. Mereka disiksa bukan karena amalannya buruk, melainkan karena niatnya yang rusak: mereka beramal hanya demi gelar “pemberani”, “alim”, dan “dermawan” di mata manusia.


Saatnya Berbenah: Kurangi Narasi, Perbanyak Aksi

Nasihat dari masa lalu ini hadir bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk membangunkan kita dari tidur panjang. Mari kita ubah energi yang biasanya habis untuk berdebat atau sekadar pamer kata-kata bijak di media sosial, menjadi energi untuk:

* Mendirikan salat di keheningan malam.
* Bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kiri tidak tahu.
* Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain tanpa perlu pengakuan dunia.

Dunia tidak kekurangan orang pintar yang pandai berbicara. Dunia hari ini sedang krisis orang-orang ikhlas yang mau bekerja dalam sunyi demi mengharap rida Ilahi.

Doa Penutup

Agar hati kita terjaga dari penyakit kemunafikan, lisan yang tak beramal, serta bahaya sifat riya, mari kita merunduk dan memohon perlindungan kepada Zat yang membolak-balikkan hati dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا نَعْلَمُهُ
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad)
Ya Allah, hiasilah lahiriyah kami dengan amal saleh yang konsisten, dan bersihkanlah batiniyah kami dari sifat riya, sum’ah, dan ujub. Jadikanlah setiap untaian kata kami menjadi hujah yang menyelamatkan, bukan pemberat siksaan. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Advertisement

Tinggalkan Komentar