Oplus_16908288

Oleh: Sobirin Malian (Anggota MHH PP Muhammadiyah)

Dunia hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan. Krisis kemanusiaan yang berlarut-larut, ketimpangan ekonomi yang ekstrem, dan standar ganda dalam penegakan hukum internasional telah membuka tabir rapuhnya tatanan dunia saat ini. Di tengah hiruk-pikuk ini, muncul suara-suara kritis seperti David Miller—akademisi yang berani mengungkap jaringan pengaruh Zionisme di jantung institusi pendidikan Barat—yang mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang fundamental yang harus diperbaiki.

Runtuhnya Narasi Tunggal dan Aliansi Intelektual Merdeka

Selama beberapa dekade, narasi materialisme Barat telah mendominasi panggung global. Namun, ketika narasi tersebut terkooptasi oleh kepentingan sempit dan pembiaran terhadap ketidakadilan, kepercayaan publik mulai luntur. Keberanian David Miller menjadi simbol perlawanan intelektual terhadap sensor pemikiran yang selama ini membungkam kritik atas penindasan.

Keberanian Miller ini nyatanya tidak berdiri sendiri; ia beresonansi dengan garis perjuangan para pemikir kritis Muslim dunia. Sosok seperti Sami Al-Arian, akademisi yang gigih melawan persekusi intelektual pro-Palestina di AS, dan Farid Hafez, pakar Islamofobia yang membongkar bagaimana narasi “keamanan” sering kali digunakan untuk mengkriminalisasi identitas Muslim, mempertegas bahwa apa yang dialami Miller adalah pola global pembungkaman kebenaran.

Dukungan dari aktivis intelektual seperti Ahdaf Soueif hingga sejarawan Yahudi-Israel Ilan Pappé—yang secara konsisten membedah Zionisme sebagai proyek kolonial—menegaskan bahwa pertarungan ini bukan sekadar sentimen agama. Ini adalah front bersama para pemikir merdeka melawan penggelapan sejarah, rasisme sistemik, dan hegemoni yang mematikan nalar sehat.

Ancaman ‘Strongman’ dan Krisis Kepemimpinan

Krisis ini kian nyata ketika panggung dunia kian ditandai oleh fenomena ‘strongman’—para pemimpin otoriter yang menggiring tatanan global menjadi sekadar ajang hegemoni kekuasaan. Ambisi mereka secara perlahan justru menghancurkan pilar-pilar peradaban yang telah susah payah dibangun, seperti demokrasi yang partisipatif, supremasi hukum internasional, hingga kultur ideologi yang lebih manusiawi.

Alih-alih merawat tatanan yang adil, kebijakan para strongman ini sering kali nampak sekadar sebagai pelampiasan ego pribadi yang menggerus kompas moral dunia demi melanggengkan dominasi. Dalam konteks ini, kritik Miller dan kawan-kawan menjadi sangat krusial: mereka mengingatkan bahwa peradaban tidak boleh disandera oleh nafsu kekuasaan segelintir elit yang menutup mata atas genosida dan ketidakadilan.

Visi Islam sebagai Solusi Eksistensial

Di tengah kegelapan hegemoni dan egoisme kekuasaan ini, visi Islam muncul bukan sekadar sebagai identitas agama, melainkan sebagai tawaran peradaban yang memuliakan martabat manusia. Islam menawarkan konsep keseimbangan antara kemajuan material dan kedalaman spiritual. Ini adalah tatanan yang tidak membangun gedung pencakar langit di atas tangisan anak-anak yatim, melainkan tegak di atas fondasi kasih sayang bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Islam hadir untuk mengoreksi ketimpangan yang dihasilkan oleh ambisi pribadi para penguasa dan sistem yang tidak adil, dengan menawarkan keadilan yang bersifat transendental—keadilan yang melampaui kepentingan kelompok maupun ego individu.

Penutup : Menjemput Fajar Peradaban Baru

Pada akhirnya, pertarungan peradaban ini bukanlah tentang siapa yang paling kuat secara militer, melainkan siapa yang paling mampu menjaga martabat manusia di titik terendahnya. Ketika sistem dunia saat ini—yang terkooptasi oleh kepentingan sempit Zionisme, materialisme Barat, dan perilaku destruktif para strongman—hanya menghasilkan kehancuran, maka beralih ke visi Islam bukan lagi sekadar pilihan teologis, melainkan kebutuhan eksistensial bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Sejarah tidak pernah berpihak pada penindas dalam jangka panjang. Seperti yang diyakini David Miller, Sami Al-Arian, Ilan Pappé, dan para pemikir merdeka lainnya, kegelapan hegemoni ini pasti akan menemui ujungnya. Namun, fajar peradaban Islam tidak akan terbit dengan sendirinya melalui angan-angan. Ia menuntut keberanian akademisi untuk mematahkan belenggu pemikiran, keteguhan pemimpin untuk berdiri tegak di atas prinsip keadilan (bukan di atas ego pribadi), dan kerja keras generasi muda untuk menguasai teknologi tanpa kehilangan jiwa spiritualnya.

Dunia sedang menanti sebuah tatanan yang tidak hanya menjanjikan kemakmuran, tetapi juga memuliakan akhlak. Inilah saatnya bagi umat Islam untuk merebut kembali peran sejarahnya—bukan untuk menguasai dunia, melainkan untuk menyelamatkan peradaban manusia dari kehancuran total dan mengembalikannya pada khitah kemanusiaan yang lebih adil, lebih beradab, dan lebih manusiawi.
***

Advertisement
Artikulli paraprakAnatomi Baru Geopolitik di Perang Teluk 2026
Artikulli tjetërNabung Jantung

Tinggalkan Komentar