Oleh: Akbar AP
Dokumentasi: Farchan Nur Rizal dan Annisa
Yogyakarta – Sambang Komunitas ke-13 kembali digelar pada Selasa, 14 Juli 2026. Kali ini bertema Relevansi Cerpen di Mata Gen Z bersama Joni Ariadinata, seorang pelukis dan cerpenis Kompas, dan Tedi Kusyairi, seorang pegiat sastra senior. Adapun kegiatan diselenggarakan di Kelingan Garden & Cafe, Bantul. Berkolaborasi dengan Tukar Akar, acara tersebut meriah dengan hadirnya anak-anak muda lintas komunitas dan berbagai macam jenis penampilan karya selesai berdiskusi.
Dalam sambutannya sebagai perwakilan Dinas Kebudayaan DIY bidang Bahasa dan Sastra, Setyo Amrih Prasojo menyampaikan bahwa Sambang Komunitas diadakan untuk menjalin relasi keilmuan antar alumni Temu Karya Sastra yang sudah 5 tahun berjalan. Selain itu, kedatangan peserta umum menambah warna acara ini. Pak Amrih, demikian dia dipanggil, juga menjelaskan jika Sambang Komunitas yang bersifat serial pada kali ini juga menarik karena menampilkan tema yang berbeda bersama pakarnya. Selanjutnya, sambutan beralih ke Farchan Nur Rizal selaku perwakilan dari Tukar Akar. Pemuda kelahiran Gunung Kidul itu mengapresiasi kerja tim selama sepekan terakhir oleh segenap panitia.

Kemudian, penampilan pembuka sebelum diskusi berupa 2 lagu dari Majelis Puisi Perempuan yang diwakili Peni dan Gatot mengalihkan ketegangan hadirin. Suasana menjadi syahdu. Sepoi angin dari sawah yang mengelilingi kafe memadatkan pesona musikalisasi puisi Peni dan Gatot.
Lalu diskusi berjalan menyenangkan dengan dipandu Kei Kurnia (Ketua Tukar Akar) yang bertugas sebagai moderator. Pada kesempatan ini, kehadiran Joni Ariadinata menjadi daya tarik tersendiri. Sastrawan kelahiran Dusun Majapahit, 23 Juni 1966 ini merupakan sastrawan terkemuka penerima Anugerah Sastra Kreatif Terbaik Asia Tenggara 2010 dan Anugerah Sastra Pusat Bahasa 2008. Selain dikenal lewat karyanya Lampor (Cerpen Terbaik Kompas 1994) dan Keluarga Maling (Penghargaan Dewan Kesenian Jakarta), Joni juga kerap mewakili Indonesia di berbagai ajang kesenian internasional seperti di Malaysia, Belanda, dan Jerman. Beliau juga mendirikan Jurnal Cerpen Indonesia dan menjadi redaktur majalah sastra Horizon sejak tahun 2000. Gaya Joni Ariadinata yang penuh wawasan terasa serius tapi santai dalam menyampaikan pengalamannya selama berkarya. Disusul Tedi Kusyairi yang lebih menggelikan karena banyak sisipan humor dalam materinya sehingga tawa tidak terelakan lagi dari sana-sini.
Memasuki inti diskusi, Joni menyoroti fenomena luar biasa di era digital saat ini, di mana karya-karya penulis Generasi Z dan Alpha di aplikasi membaca daring mampu menembus jutaan pembaca, sesuatu yang tak terbayangkan pada masa penulis terdahulu. Ia memaparkan bahwa terdapat pergeseran struktur penulisan yang signifikan pada generasi ini. Demi mempertahankan pembaca di platform berbayar per bab, penulis masa kini dituntut untuk terus menciptakan ketegangan atau daya pikat di setiap bagiannya.

“Untuk karya-karya yang digital itu sangat mementingkan peristiwa. Nah, jadi peristiwa itu menjadi nomor satu. Kemudian baru tema,” jelas Joni. Menariknya, terlepas dari pergeseran gaya penulisan tersebut, Joni secara terbuka memuji kecerdasan generasi masa kini. “Saya menduga bahwa mereka jauh lebih cerdas daripada generasi kami. Karena apa, karena mereka bisa merespon sesuatu itu memang dengan sangat cepat dan juga menulisnya juga dengan sangat cepat,” ungkapnya penuh kekaguman. Tedi Kusyairi, dari sudut pandangnya yang banyak mendampingi penulis-penulis muda, membenarkan pergeseran gaya tersebut. Ia menceritakan pengalamannya dalam Kemah Sastra, di mana dari 40 peserta, hampir semuanya menyelesaikan tulisan hanya dengan menggunakan telepon genggam secara cepat. “Sekarang sudah sangat canggihnya, inspirasi datang dalam genggaman tangan, ditulis, ada imajinasi masukkan selesai,” tutur Tedi.
Meski memuji kecepatan dan kelincahan ide Gen Z, Tedi tetap memberikan catatan kritis terkait “kedalaman rasa”. Ia menyoroti apakah kemudahan teknologi dan gaya hidup digital membuat para penulis muda ini kehilangan kedalaman interaksi sosial di dunia nyata. “Apakah kemudian kurang rasa… srawungnya, kekancane, ngobrol-ngobrole, gitu sangat eksklusif,” tanya Tedi sebagai bahan renungan.
Diskusi semakin memanas ketika sesi tanya jawab menyinggung penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam menulis cerpen. Menjawab keresahan peserta, Joni menegaskan bahwa dalam dunia sastra, AI sebaiknya hanya diposisikan sebagai alat bantu riset, bukan pencipta karya. Pembaca tulisan fiksi sangat peka terhadap karya yang kehilangan nyawa atau rasa emosional dari manusia. “Para pembaca itu sudah bisa menangkap kalau penulis ini sudah mencoba memakai AI, dia akan langsung di-unfollow,” tegas Joni, memperingatkan bahwa kejujuran rasa tetap menjadi kunci utama sebuah karya sastra.
Sesi bincang-bincang yang turut dihadiri oleh Esther, seorang mahasiswi asing asal Kongo ini, pada akhirnya membuktikan bahwa sastra, terkhusus cerpen, akan terus relevan dan berevolusi mengikuti ritme zamannya. Setelah sesi tanya jawab yang interaktif ditutup, acara tidak langsung usai. Malam itu semakin meriah dengan rangkaian panggung ekspresi, mulai dari pembacaan cerita pendek berbahasa Jawa oleh Azkia, parade pembacaan puisi dari rekan-rekan Teater Braille, Sahal Al-bakasy, Akbar AP, musikalisasi puisi Pascalia WD, dan para peserta yang hadir. Rangkaian acara Sambang Komunitas ke-13 ini pun ditutup dengan sesi foto bersama, meninggalkan jejak hangat di tengah sejuknya angin Kelingan Garden.










