Oleh: Dr. Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)
1. Ketika Lisan Menjadi Senjata
Pernahkah kita berada di puncak amarah, lalu menyadari betapa tipisnya jarak antara iman dan hilangnya kendali diri? Di kala emosi memuncak dan kesabaran menipis, lisan sering kali menjadi senjata pertama yang melukai. Sebagian orang refleks menumpahkan kekesalan lewat umpatan kasar dan kata-kata kotor. Padahal, daripada selalu mengumbar kata-kata kasar yang pasti menyakiti hati orang lain, alangkah indahnya jika kita memilih untuk segera beristighfar memohon ampunan Allah, lalu mengambil air wudhu untuk memadamkan gejolak di dada.
2. Tuntunan Wahyu dan Ancaman bagi Pengumpat
Bagi seorang Muslim, lisan bukanlah tempat bagi kekejian, melainkan cerminan dari apa yang ada di dalam hati. Rasulullah ﷺ memberikan panduan yang sangat sederhana namun mendalam:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah.” (HR. Bukhari & Muslim).
Al-Qur’an memberikan peringatan yang menggetarkan jiwa dalam Surah Al-Humazah ayat 1: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” Para ulama menjelaskan bahwa kata Wail di ayat ini merujuk pada siksaan yang pedih di neraka. Ancaman ini ditujukan bagi mereka yang gemar menjatuhkan kehormatan orang lain, baik lewat isyarat tubuh (hamaz) maupun ucapan kasar (lamaz). Begitu pula dalam Surah Al-Qalam ayat 11, Allah mengingatkan kita untuk tidak mengikuti orang-orang yang gemar mencela dan menebar fitnah.
3. Rahasia Psikologi di Balik Sunnah Meredam Amarah
Secara ilmiah, tindakan mengambil jeda saat emosi meluap sangat sejalan dengan perspektif psikologi modern. Ketika seseorang marah, otak mengalami apa yang disebut amygdala hijack—sebuah kondisi di mana pusat emosi mengambil alih logika, sehingga memicu respons impulsif untuk menyerang atau memaki.
Mengalihkan energi amarah dengan beristighfar, berwudhu, atau sekadar diam, memberikan waktu bagi otak berpikir (prefrontal cortex) untuk kembali tenang dan mengambil kendali rasional.
Jika setelah beristighfar dan berwudhu amarah itu masih juga membara, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita sebuah metode psikologis yang luar biasa, yaitu mengubah posisi fisik:
* Jika sedang berdiri, maka duduklah.
* Jika masih marah, maka berbaringlah.
Penurunan posisi tubuh ini terbukti secara psikologis mampu menurunkan ketegangan saraf, memperlambat detak jantung, dan meredakan produksi hormon stres secara bertahap.
4. Merajut Kedamaian Lewat Kata-Kata yang Bersih
Kemuliaan seorang manusia tidak diukur dari seberapa keras ia bisa membalas makian, melainkan dari keindahan akhlaknya. Menjaga lisan bukan sekadar formalitas sosial, melainkan bentuk ibadah dan modal keselamatan kita di akhirat.
Ketika lisan kita terjaga, jiwa menjadi tenang, dan keberadaan kita akan membawa kedamaian bagi sesama. Mari melatih diri untuk menyaring setiap kata, agar yang mengalir dari bibir kita hanyalah untaian kalimat yang bersih, menyejukkan, dan bernilai pahala. Wallahu a’lam.
Advertisement










